Pengabdian Tanpa Pamrih


“Karena Ia tahu jalan hidupku; seandainya Ia menguji aku, aku akan timbul seperti emas” (Ayub 23:10)

Kalau membaca kisah Ayub, umumnya kita mengagumi kehebatan pribadinya, yaitu ketabahan dan kesabarannya menghadapi pencobaan yang begitu berat. Tentu kita dapat memetik pelajaran dan hikmah dari kehidupan tokoh yang luar biasa ini. Tetapi semakin kita dalami pengajaran Tuhan Yesus dan para rasul yang tertulis dalam Perjanjian Baru, semakin kita melihat ketidakmatangan atau kelemahan Ayub.  Ayub sendiri juga mengakui ketidakmatangan dan kelemahannya dalam pernyataan diatas. Ini menunjukkan bahwa kualitas kerohanian Ayub sebelum mengalami pencobaan belum berkualitas emas murni. Ia hidup dalam kecemasan dan kekhawatiran. Ia belum mempercayai perlindungan Tuhan yang sempurna (Ayub 3:25-26). Sikap yang belum matang ini harus dikikis melalui pencobaan yang dialaminya. Walaupun Ayub dapat melakukan semua ibadahnya untuk keselamatannya, untuk kepentingannya dan kenyamanannya sendiri.  Ibadahnya hanyalah usaha untuk mengatasi kecemasan atau kekhawatirannya. Ini bukan ibadah yang berkualitas tinggi. Karena Ayub berkenan dihadapan Tuhan (walaupun belum matang benar), maka Tuhan memberi “hadiah” dalam bentuk meningkatkan kualitas rohani atau kematangannya.

Seharusnya kita mengabdi kepada Tuhan (saleh, jujur, takut akan Allah dan menjauhi kejahatan) bukan supaya diberkati, tetapi karena memang manusia diciptakan hanya untuk mengabdi kepada Tuhan. Jadi kita harus mengabdi kepada Tuhan tanpa pamrih. Seandainya kita sudah mengabdi kepada Tuhan, tetapi Ia tidak memberkati kita, bahkan tidak membawa kita ke Surga, ya terserah kepada kehendakNya, karena ialah pemilik hidup kita yang berkuasa penuh atas hidup kita. Namun syukurlah, Tuhan kita sangat baik, sehingga ia pasti memberkati dan menempatkan kita dalam kerajaanNya. Tetapi harus diingat bahwa kita mengabdi kepada Tuhan bukan karena berkatNya atau SurgaNya, sebab memang kita telah diberkati dan akan selalu hidup dalam berkatNya, serta Surga adalah rumah kita.

(GRI Berkat)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s