Untuk Tuhan, Bukan Untuk Manusia


“Hai kamu, hamba-hamba, tunduklah dengan penuh ketakutan kepada tuanmu, bukan saja kepada yang baik dan peramah, tetapi juga kepada yang bengis” (I Petrus 2:18)

Nasihat ini tampaknya bertolak belakang dengan kebiasaan karyawan atau bawahan pada umumnya. Memang mudah untuk berlaku setia dan bekerja keras di tempat kerja yang bosnya murah hati dan baik kepada pegawainya, tetapi untuk berdedikasi kepada perusahaan atau organisasi yang pemimpinnya pelit, bengis, keji dan tidak berperikemanusiaan kepada bawahannya memang sangat sulit. Namun nyatanya Alkitab mengajarkan lain. Umumnya bila atasan baik, maka kitapun baik kepadanya. Bila atasan tidak baik, maka kitapun tidak baik kepadanya. Ada dua alasan sikap ini merugikan kita. 

Pertama, kita tidak mendidik diri kita sendiri memiliki kepribadian yang agung. Seharusnya kita berbuat baik tidak hanya kepada mereka yang dapat menguntungkan kita saja, tetapi juga kepada orang yang menurut kita tidak menyenangkan bahkan merugikan. Lukas 6:23 mengatakan kepada kita “Dan jikalau kamu mengasihi orang-orang yang mengasihi kamu, apakah jasamu? Karena  orang berdosapun mengasihi juga orang-orang yang mengasihi mereka”. Tuhan Yesus mengajarkan hukum emas ini kepada kita. Janganlah hal ini kita jadikan sebuah pajangan yang terpampang di dinding rumah kita, tetapi biarlah ini kita meteraikan di dalam loh hati kita dan dapat terperagakan secara konkret dalam hidup kita, sehingga dapat menjadi surat yang terbuka agar dapat dibaca oleh semua orang dan mereka dapat menemukan pribadi yang agung Yesus Kristus tersebut dalam diri kita.

Kedua, kita akan kehilangan kesempatan berprestasi. Orang yang telah kehilangan semangat ditempat kerjanya tidak akan memanfaatkan potensi dirinya secara optimal. Ini berarti tidak ada prestasi yang baik, sebab prestasi yang baik tidak dapat dihasilkan oleh usaha yang sedang-sedang saja. Sebaliknya merupakan suatu keuntungan besar bila kita dapat bekerja pada orang yang tidak berperikemanusiaan, sebab dalam keadaan itu kita sedang melakukan sesuatu bukan untuk manusia melainkan untuk Tuhan. Dengan demikian kita sedang melakukan suatu pekerjaan yang memiliki nilai abadi di kekekalan, dan itu akan diingat olehNya.

(GRI Berkat)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s