Apakah Tuaianku?


“Jangan sesat! Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan. Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya.” Galatia 6:7

Hukum tabur-tuai, atau dalam agama lain sering disebut hukum Karma dan juga ada pepatah mengatakan “What you sow is what you reap” atau “What goes around comes around” sangat relevan dalam segala aspek kehidupan manusia. Baik dalam kehidupan pelayanan, tindakan kita memperlakukan sesama, cara mengelola keuangan, pekerjaan, kesehatan, dll. 

Namun hukum tabur-tuai ini sering kali disalah-artikan oleh banyak orang seperti contoh, ketika kita memukul seseorang bukan berarti otomatis tuaian yang akan kita dapat adalah orang itu akan memukul kita balik, atau seandainya kita mencuri/korupsi bukan berarti tuaian yang kita dapat adalah uang kita akan dikorupsi juga. Walaupun ada kemungkinan hal itu dapat terjadi.

Hukum tabur-tuai ini bersifat berkelanjutan, Ibarat kita menanam benih jagung, pada waktunya kita akan menuai jagung dan hasil tuaian tersebut sebagian akan kita pergunakan sebagai benih yang ditanam untuk dituai dikemudian hari. Yang dimaksud disini adalah, contoh kasus si A melakukan membantu si B dalam memecahkan masalah pekerjaannya. Bukan berarti secara otomatis si B mau melakukan yang sama terhadap si A sebagai tanda terima kasihnya kepada si A. Malahan ada kemungkinan suatu saat si B mengkhianati si A dengan cara menjatuhkan si A di depan bosnya ketika terjadi suatu masalah dalam pekerjaan – ini yang sering disebut oleh pepatah “Air susu dibalas dengan air tuba”. Lalu apakah berarti hukum tabur-tuai ini tidak berlaku dalam kasus ini? Masih tetap berlaku, karena roda kehidupan terus berputar.

Sangat mungkin bahwa suatu saat datang seorang C yang akan membantu si A pada saat yang tepat dimana si A sangat membutuhkan pertolongan. Itulah tuaian si A dalam rangka memberikan pertolongan kepada si B. Akan tetapi si B, pada saat dia mengkhianati si A dia telah menabur sesuatu yang baru untuk dirinya sehingga apabila saatnya tiba dia akan menuai sesuai dengan perbuatannya mungkin saja si Bos akhirnya mengetahui tindakan si B dan akhirnya si B diberikan peringatan ataupun dipecat. Itulah kemungkinan tuaian yang akan didapat oleh si B. Sedangkan si C, dalam contoh kasus ini, dia telah menabur sesuatu yang baik yang akan dia tuai dikemudian hari. Begitu seterusnya.

Bagaimana jika si A karena kekecewaan dan sakit hati terhadap perlakukan si B akhirnya membalas perbuatan si B dengan sesuatu yang tidak berkenan dimata Allah? Apabila si A membalas kejahatan si B, si A pun telah menabur sesuatu yang baru yang akan dituai dikemudian hari. Oleh sebab itu di dalam Alkitab, Tuhan mengajarkan agar kita tidak membalas kejahatan dengan kejahatan — “Janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan; lakukanlah apa yang baik bagi semua orang!” (Roma 12:17) — Ayat ini mengingatkan kita untuk tidak membalas kejahatan dengan kejahatan supaya kita terlepas dari hukum tabur-tuai ini karena apabila kita membalas kejahatan dengan kejahatan maka kita pun terperangkap dalam hukum ini dan kita menabur benih baru yang akan kita tuai dikemudian hari. Dan dengan tidak membalas kejahatan dengan kejahatan kita memberikan tempat kepada  murka Tuhan terhadap orang yang melakukan kejahatan terhadap kita, seperti yang tertulis dalam Roma 12:19 “Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah kamu sendiri menuntut pembalasan, tetapi berilah tempat kepada murka Allah, sebab ada tertulis: Pembalasan itu adalah hak-Ku. Akulah yang akan menuntut pembalasan, firman Tuhan.”

Oleh karena itu agar kita dapat menuai yang baik hendaklah kita menabur yang baik juga sama seperti yang tertulis dalam Matius 7:12. “Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.” Ayat ini mengajarkan agar kita selalu berbuat baik terhadap semua orang agar kita diperlakukan dengan baik  oleh orang-orang. Walaupun ada kemungkinan orang tersebut dapat membalas kebaikan kita dengan suatu tindakan yang dapat menyakiti perasaan kita. Tetapi akan ada orang lain yang diutus Tuhan untuk memperlakukan kita sesuai dengan apa yang kita lakukan.

Hukum ini diberlakukan agar supaya kita dapat belajar dan menjadi orang yang lebih baik yang memiliki kehidupan yang lebih baik juga.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s